Sabtu, 22 Juni 2013

Lawan Jadi Kawan

Suasana gaduh kelas 7 a berhenti saat wali kelas mereka memasuki ruangan. Beliau memasuki kelas dengan seorang siswa baru.

“Pagi anak-anak. Pagi ini kelas kita kedatangan teman baru dari kota Jakarta. Silahkan perkenalkan diri.” Sapa Bu Aisyah.
            “Perkenalkan nama saya Annisa Indah Pertiwi. Biasanya saya dipanggil Annis. Umur saya  12 tahun.  Saya dari SMP Tunas Bangsa Jakarta Timur. Saya tinggal di Desa Mangga no. 7 Bogor. Saya tinggal bersama kakek dan nenek saya. Orang Tua saya tinggal di kota Jakarta. Saya pindah karena ingin mendapatkan suasana belajar yang baru. Sekian dan terima kasih.”  


“ Baik Annis silahkan kamu duduk dekat Putri disebelah sana.” Sahut Bu Aisyah menunjukkan tempat duduk putri. Pelajaran pun dilanjutkan sampai bel istirahat berbunyi.  Imah dan teman-temannya mendatangi Anis.

“Anak kota ya?” Tanya Imah dengan sinis.  Annis hanya mengangguk pelan dan tersenyum kecil kepada Imah.
 “Oh ya kenalkan namaku Annis namamu siapa?” Tanya Annis kepada Imah.

“Butuh ya namaku? Maaf aku nggak bisa kasih tahu namaku kepada orang asing.” Jawab Imah dengan nada sinis.
            “Kamu kan sudah tahu namaku jadi aku bukan orang asing disini. Jadi, siapa namamu?” Tanya Annis dengan megulurkan tangannya kearah Imah.
            “Aku nggak mau bersalaman sama orang kota kayak kamu” jawab Imah dengan nada yang lebih tinggi.
“Kenapa?”

“Karena orang kota itu jahat, sombong, perusak dan apalah itu! termasuk kamu!” jawab Imah dengan nada marah bercampur sedih ke arah Annis.

“Tapi aku bu…” bantah Annis tapi Imah dan teman-temannya sudah pergi meninggalkan dia dan putri.

“Sabar ya Nis, Imah orangnya emang begitu. Sekarang dia mudah sensitif semenjak lahan perkebunan  orang tuanya diambil alih oleh orang kota. Makanya kalau dia dengar kata orang kota pasti dia langsung marah.” Jelas Putri

“Oh begitu, kasihan ya dia”

Bel masuk berbunyi pelajaran dilanjutkan sampai pulang sekolah. Setelah pulang sekolah Annis bertanya kepada kakeknya yang sedang membaca koran.

“Kakek kenal Imah?” Tanya Annis.

“Imah yang seumuran kamu itu?” Tanya kakek memastikan.

“Iya, kakek kenal?” Tanya Annis

“Iya dong cu, seluruh orang di desa ini kenal dia. Imah itu anaknya sopan, lembut, baik, murah senyum.” Jawab kakek.

“Tapi di sekolah dia marah-marah sama aku. Kalau bicara sama aku pasti nada suaranya sinis kek.” Jelas Annis

“Apakah benar?” Tanya kakek.

“Benar  kek” Jawab Annis

“Jangan diambil hati ya. Beberapa bulan ini kakek jarang lihat Imah. Katanya dia jarang keluar rumah kecuali ke sekolah semenjak lahan perkebunan  orang tuanya diambil alih oleh perusahaan milik orang Jakarta.” Jelas kakek.

lllll
Keesokan harinya Annis bersekolah dengan biasa. Putri masih menjadi sahabat Annis. Imah yang tak suka dengan Annis. Persaingan antara Annis dengan Imah semakin memanas dalam adu kepandaian dan keterampilan. Peristiwa itu berulang-ulang dari waktu ke waktu.

Suatu hari Annis melihat Imah sendiri menangis di belakang sekolah. Dihati Annis terdapat keraguan untuk mendatangi Imah, tetapi ada rasa sedih di hati Annis. Maka, Annis memutuskan untuk mendatangi Imah. Meskipun dia tahu Imah akan marah kepadanya.

“Imah, mengapa kamu menangis?” Tanya Annis.

“Mengapa kamu disini? Pergi sana aku tak butuh perhatianmu!” Jawab Imah sedih bercampur marah.

“Imah kamu jangan seperti itu. Aku perhatian sama kamu karena kamu temanku. Aku berhak tahu apa yang terjadi. Kalau aku bisa bantu aku akan bantu kamu.” Nasihat Annis.

“Kamu tak perlu tahu… hu..hu..hu..” Jawab Imah diikuti tangisan tersedu-sedu.

“Ya sudah, bicaranya nanti saja kalau kamu sudah tenang.” Tegur Annis.

“Hu…hu..hu..” Imah yang menangis di pundak Annis.

Setelah dalam keadaan tenang Imah mau bercerita kepada Annis. Mereka lupa bahwa mereka selalu bertengkar, bersaing, serta merebutkan yang mereka inginkan.

“Imah, mengapa tadi kamu menangis?” Tanya Annis penasaran.

“Tadi aku dipanggil ke ruang kepala sekolah karena sudah 3 bulan tidak membayar SPP. Jika aku tak membayarnya minggu ini aku akan dikeluarkan oleh sekolah.  Aku sangat sedih. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak mungkin memberi tahu hal ini kepada orang tuaku. Mereka pasti sedih.  Aku tak mau membuat mereka sedih.” Jawab Imah sedih.

“Aku akan membantumu.” Ujar Annis.

“Kamu nggak keberatan? Selama ini aku kan sudah jahat sama kamu.” Tanya Imah

“Tidak apa-apa, aku ikhlas kok”

“Terima kasih ya Nis kamu mau bantuin aku. Maafkan aku ya, selama ini aku salah menilaimu. Ternyata kamu anak kota yang baik sekali.”

“Iya, aku sudah maafkan kamu kok. Mau kan kamu  jadi sahabatku? Kita tidak saling bermusuhan lagi ” Tanya Annis

“Iya dong. Kamu sudah jadi sahabatku sekarang.” Jawab Imah.

Setelah peristiwa itu mereka menjadi sahabat yang akrab  sekali. Imah tidak jadi dikeluarkan oleh  sekolah. SPP Imah telah dibayarkan oleh orang tua Annis. Mereka bersaing secara sportif untuk menjadi juara kelas. Walau begitu mereka tetap mementingkan persahabatan mereka. Mereka menjadi sahabat yang tak terlupakan di dalam diri mereka masing-masing.

by: Azizah (buatan pas kelas 7)


0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Berbagi Cerita Blogger Template by Ipietoon Blogger Template